HIJRIYYAH dan REFLEKSI MASYARAKAT GURUN

Oleh : Dona Romdona ( Pimpinan Ponpes Singabuntu)

Muharram pada tradisi masyarakat arab sering dijadikan sbg bulan untuk mendesain ulang hidupnya, momentum evaluasi diri dan perenungan. Karena pada bulan selanjutnya – safar anak² muda gurun hrs merantau, berdagang dan mencari penghidupan. Sementara di bulan Robiul Awal anak muda gurun hrs pulang ke gurun ( kampung halaman). Menginjak Robiul Akhir anak muda Arab mulai mengelola ternaknya, angon unta dan domba, mereka bersuka ria mengelola harta kekayaan orang tuanya berupa ternak² domba dan unta.

Masuk di bulan Jumadi Awal tiba lah musim kering. Rumput² mulai habis ada juga yg mengering. Musim paceklik mulai tiba, otak mulai berputar, tidak jarang tindakan² kriminal mulai bermunculan, perang antar suku untuk mengambil kekayaan suku lain sering terjadi – karena perang bernilai ekonomis yang instan dan menguntungkan. Pemandangan perang antar suku sering terlihat, jual beli rampasan perang sangat menggiurkan, termasuk jual beli manusia yg memiliki nilai jual yg menguntungkan. Di bulan Jumadi akhir tensi mulai menurun. Mereka yg bersitegang mulai membangun komunikasi secara intensif. Tiba lah fase menahan diri, masing² pihak mulai saling mengevaluasi diri, merenungkan kembali masa depan suku atau klannya, ini lah yang di sebut bulan Rajab – bulan yg di hormati untuk saling menahan diri. Beberapa orang memanfaatkannya untuk kontemplasi, tapi hanya sedikit sekali memanfaatkan memonteum Rajab

Memasuki bulan sya’ban komunikasi antar suku sudah jarang terjadi lagi, masing² mulai menyimpan memori peperangan. Friksi² mulai menggangga, memori dendam di wariskan dari generasi ke generasi. Mereka yg memiliki kebijaksanaan, bulan sya’ban digunakan untuk banyak berdiam diri, mendeteksi prilakunya dan berpuasa. Memasuki cuaca yg sangat panas, jatuh di bulan Ramadhan ; bulan ini digunakan untuk berdiam diri di tenda². Mereka yg masih memegang tradisi agama semitik, memanfaatkannya untuk menyepi, menyendiri di gurun², di perbukitan bahkan di gua². Mereka ingin mengakses inspirasi, ide² kreatif ( menghadapi kehidupan sosial dan geografis yg keras) dan pencerahan.

Kemudian masuklah di bulan Syawal bulan ini merupakan bulan pemantapan. Mereka yg mendapatkan inspirasi di bulan ramadhan mulai merakit kembali target dan visi hidupnya. Di bulan ini tidak jarang para orang tua dan anak mudanya mengisi dg aktivitas berburu binatang. Keahlian dan keterampilan memanah, berburu binatang dan berkuda mulai diajarkan ke anak² muda. Sambil melantunkan syair² arab mereka berduyun² mencari titik² lokasi binatang liar. Pulang berburu, mereka banyak mengumpulkan persediaan makanan.

Di bulan Dzulqodah masyarakat gurun banyak diam di tenda. Bagi mereka yg masih memegang tradisi semitik banyak menyepi sendiri, mengisolasi diri di tengah² gurun ( kholwat).

Di bulan selanjutnya yaitu Bulan Dzulhijjah mereka berjiarah di bangunan tua, peninggalan Nabi Ibrahim AS yg dulu pernah di pugar oleh leluhurnya Ibrahim AS dan Ismail AS.

Dzulqodah dan Dzulhijjah sama halnya dg bulan Rajab dan Muharram yaitu bulan penguatan/pengokohan jiwa, bulan untuk penguatan dan pembersihan jiwa. Sehingga 4 bulan ini merupakan bulan yg sangat dihormati dan dimuliakan. Ini menjadi tradisi turun temurun untuk dijadikan refleksi diri.

Begitulah peta sosial masyarakat gurun. Bagi mereka penentuan waktu kalender merupakan refleksi aktifitas sosial. Penentuan tahun selalu berasosiasi dg peristiwa² kehidupannya. Mereka menentukan waktu dg mengidentifikasi peristiwa² kehidupannya. Sebuah kesadaran akan hadirnya denyut nadi kehidupan sosial dan alamnya.

Uniknya bulan² yg di hormati selalu terjadi di awal tahun ( Muharram) dan di akhir tahun ( Rajab, syaban, Romadhan, Syawal, Dzulqodah dan Dzulhijjah). Lantas bagaimana dg masyarakat kita dlm menyikapi tahun baru Hijriyah, refleksi apa yg mesti dibangkitkan ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share Artikel :

Hubungi kami di : tel:+6282122997106

Kirim email ke kami info@pesbu.id